Banyak orang berpikir bahwa sehat hanya
berkaitan dengan fisik saja. Padahal Kesehatan mental juga harus diperhatikan.
Menurut penelitian American Psychological Association (APA)
tahun 2018 berjudul “Stress in America: Generation Z”, anak muda
usia 15 sampai 21 tahun adalah kelompok manusia dengan kondisi kesehatan mental
terburuk dibandingkan dengan generasi-generasi lainnya. Menurut penelitian APA
tersebut juga, diperoleh hasil bahwa sebanyak 91 persen Generasi Z mempunyai
gejala-gejala emosional maupun fisik yang berkaitan dengan stres, seperti
depresi dan gangguan kecemasan. Dari data diatas bisa disimpulkan kalau
Generasi Z memiliki kesehatan mental yang paling buruk.
Ada bermacam-macam hal
yang menyebabkan gangguan mental pada Generasi Z dan salah satunya adalah kemajuan
teknologi. Isu-isu yang tersebar di internet dan tingginya aksesibilitas
informasi bagi Generasi Z termasuk di dalamnya adalah informasi mengenai
masalah-masalah di dunia dan sekitarnya. Karena banyak terpapar informasi,
semakin pahamlah Generasi Z terhadap permasalahan-permasalahan itu. Informasi
yang mereka dapat dari internet perlahan-lahan menjelma menjadi suatu
kekhawatiran yang menjadi tekanan pada diri sendiri.
Tekanan dari sekitar
juga berpengaruh terhadap kesehatan mental Generasi Z. Seperti tekanan dari orang
terdekat, ekonomi, dan Pendidikan. Seperti orang tua yang berharap terlalu
tinggi pada anaknya, kebutuhan yang semakin hari semakin tidak terjangkau, dan
tugas yang menumpuk bisa memberi tekanan kepada kesehatan mental. Tekanan yang
menumpuk ini semakin lama semakin terakumulasi dan bisa menyebabkan stress, gangguan
mental, bahkan bisa berujung self- harm dan bunuh diri.
Tanda-tanda dari mulai terganggunya
kesehatan mental bisa dilihat dari gangguan pola makan, emosi tak terkontrol,
merasa tak berdaya dan bingung, berelebihan dalam menanggapi sesuatu, delusi
dan halusinasi, perubahan mood yang drastis, mulai menarik diri dari kehidupan social,
dan hilangnya konsentrasi dan kemampuan untuk memahami seseorang.
Lalu bagaimana menjaga
kesehatan mental? Bisa dari melakukan aktivitas fisik agar tubuh tetap aktif
bergerak, menyibukan diri dengan hobi karena dengan melakukan hobi bisa
membantu perasaan kita untuk senang dan melupakan masalah-masalah kita sejenak,
Membantu orang lain juga bisa membantu mengurangi perasaan terbeban kita,
selalu berpikir positif juga salah satu kunci penting agar kekhawatiran dan pikiran
buruk sirna dari pikiran kita, bila merasa tertekan mentalnya bisa menceritakannya
pada teman terdekat atau meminta bantuan professional, tidur yang cukup juga bisa
membuat tubuh kita menjadi lebih segar dan rileks dalam menghadapi segala
masalah yang akan kita hadapi.
Bila sudah terjadi
gangguan mental maka bisa hubungi tenaga ahli dan professional untuk dilakukan
psikoterapi, yaitu terapi bicara yang memberikan media yang aman untuk pengidap
dalam mengungkapkan perasaan dan meminta saran. Bisa juga untuk mengonsumsi
obat-obatan dibawah pengawasan tenaga ahli. Bergabung ke support grup yang
berisi orang-orang yang juga mengidap gangguan mental yang sejenis agar bisa berbagi
informasi dan pengalaman untuk berjuang melawan gangguanmental. Dilakukan rawat
inap bila sudah semakin parah dan ada usaha untuk bunuh diri.
Kondisi kesehatan
mental generasi Z sangat perlu untuk menjadi perhatian banyak pihak. Selain
kajian-kajian ilmiah mengenai penyebab kondisi psikologis ini, berbagai pihak
juga perlu terus mengembangkan sosialisasi mengenai pentingnya kesadaran
kesehatan mental.
Generasi Z juga bisa memanfaat akses informasi untuk mendapatkan bantuan klinis terkait kesehatan mental. Dan bersikap pro-aktif dalam memahami kondisi kesehatan mentalnya sendiri. Bergabung dengan komunitas dan menemukan teman untuk berbagi masalah juga bisa membantu menjaga kesehatan mental.





