Thariq bin
Ziyad (670 - 720) adalah seorang jendral
dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan
muslim atas wilayah Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan
sekitarnya) pada tahun 711 M. Dalam sejarah Spanyol dikenal dengan sebutan Taric el Tuerto (Taric
yang memiliki satu mata). Nama lengkap penakluk Spanyol ini adalah Thariq bin Ziyad bin
Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin
Nafzau ini adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah
Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Asal-usul Thariq
tidak diketahui secara pasti. Menurut sejarawan Syauqi Abu Khalil dan dikutip
oleh Alwi Alatas, ada yang menyebutnya sebagai keturunan dari Bani Hamdan dari
Persia, atau dari suku Lahm. Ada juga yang menyebutkan Thariq berasal dari
bangsa Vandals. Namun, banyak sejarawan yang menganggap dia keturunan dari
bangsa Berber. Menurut Alwi Alatas, Thariq berasal dari keluarga muslim dan
sejak kecil telah dididik secara Islam oleh ayahnya pada masa kekuasaan Uqbah
bin Nafi di Ifriqiya. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu
bela diri. Setelah Rasulullah saw. wafat, Islam menyebar dalam spektrum yang
luas. Tiga benua lama yaitu Asia, Afrika, dan Eropa pernah merasakan rahmat dan
keadilan dalam naungan pemerintahan Islam. Tidak terkecuali Spanyol
(Andalusia). Ini negeri di daratan Eropa yang pertama kali masuk dalam pelukan
Islam di zaman Pemerintahan Kekhalifahan Bani Umayyah.
Musim
panas tahun 711 M (92 H), Thariq bin Ziyad berangkat menuju Andalus.
Pada tanggal 29 April 711, pasukan Thariq mendarat di Gibraltar (nama
Gibraltar berasal dari bahasa Arab, Jabal Tariq yang artinya
Gunung Thariq). Setelah pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal,
Pasukannya
kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau
kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain.
Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq
berkata..
...Kita datang ke sini bukan untuk kembali.
Kita hanya memiliki dua pilihan yaitu Menaklukkan negeri ini lalu tinggal di
sini atau kita semua binasa..!!
Kini pasukannya paham. Mereka menyambut
panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar.
Lalu Thariq melanjutkan briefingnya dan kemudian
berpidato ...
“Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke
mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada
musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran
dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.
Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan
persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata
kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut
senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa
melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar.
Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka
lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.
Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan
mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga
tidak bertekad bulat untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama
sekali tidak bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa
saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah
satu modal utama perjuangan kita.
Kita harus bahu-membahu. Sesungguhnya saya tahu
kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan
bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu
kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena
kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya.
Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah
penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini
di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu.
Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh
saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu,
negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan
ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”
Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja
Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin
langsung pasukannya itu. Musa bin Nusair mengirim bantuan kepada Thariq hanya
dengan 5.000 orang. Sehingga total pasukan Thariq hanya 12.000 orang. Pada hari
Ahad, 28 Ramadhan 92 H atau 19 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu dan bertempur
di muara Sungai Barbate. Pasukan muslimin yang kalah banyak terdesak. Dengan bantuan Julian, penguasa Ceuta. Julian
dan beberapa orang anak buahnya menyusup ke kubu Roderick. Ia menyebarkan kabar
bahwa pasukan muslimin datang bukan untuk menjajah, tetapi hanya untuk
menghentikan kezaliman Roderick. Jika Roderick terbunuh, peperangan akan
dihentikan.
Usaha Julian berhasil. Sebagian pasukan Roderick
menarik diri dan meninggalkan medan pertempuran. Akibatnya barisan tentara
Roderick kacau. Thariq memanfatkan situasi itu dan berhasil membunuh Roderick
dengan tangannya sendiri. Mayat Roderick tengelam lalu hanyat dibawa arus
Sungai Barbate.
Terbunuhnya Roderick mematahkan semangat pasukan
Spanyol. Markas pertahanan mereka dengan mudah dikuasai. Keberhasilan ini
disambut gembira Musa bin Nusair. Baginya ini adalah awal yang baik bagi
penaklukan seluruh Spanyol dan negara-negara Eropa.
Setahun kemudian, Rabu, 16 Ramadhan 93 H, Musa
bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Dalam perjalanan ia
berhasil menaklukkan Merida, Sionia, dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq
memabagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada, dan Malaga. Ia sendiri
membawa sebagian pasukannya menaklukkan Toledo, ibukota Spantol saat itu. Semua
ditaklukkan tanpa perlawanan.
Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di
Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak
menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan
Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan
dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).
Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa
bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara
untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana
pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak terealisasi karena
Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus.
Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan
baru di Spanyol.
Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad
ditakdirkan Allah swt. tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan menghembuskan
nafas. Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai
putra asli Afrika Utara muslim yang menaklukkan daratan Eropa.